Ideologi Nasional

A.  Pengertian Ideologi

Ideologi berasal dari kata Yunani idein yang berarti melihat, atau idea yang berartu raut muka, perawakan, gagasan, buah pikiran dan kata logika yang berarti ajaran. Dengan demikian, ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan atau buah pikiran atau science des ideas (AL Marsudi, 2001:57). Pengertian ideologi secara umum adalah suatu kumpulan gagasan, ide, keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis yang mengarahkan tingkah laku seseorang dalam berbagai bidang kehidupan seperti:

a.  Bidang Politik, (termasuk bidang hukum, pertahanan, dan keamanan).

b.  Bidang Sosial,

c.  Bidang Budaya,

d.  Bidang Agama.

Menurut Poespowardojo (1992) ideologi memiliki fungsi pokok mpenting sebagai berikut:

a.   Memberikam struktur kongkrit, yaitu keseluruhan pengetahuan yang dapat merupakan landasan yang memahami dan menafsirkan dunia serta kejadian-kejadian dalam alam sekitarnya.

b.  Memberikan orientasi dasar dengan membuka wawasan yang memberikan makna serta menunjukan tujuan dalam kehidupan manusia.

c.  Memberikan norma-norma yang menjadi pedoman dan pedoman bagi seseorang melangkah dan bertindak.

d.  Memberikan bekal dan jalan bagi seseorang untuk menemukan identitasnya.

e.  Kekuatan yang mampu mengamati dan mendorong seseorang untuk menjalankan kegiatan dan mencapai tujuan.

f.   Memberikan pendidikan bagi seseorang atas masyarakat untuk memahami, menghayati, serta mengamalkan tingkah lakunya sesuai orientasi dan norma-norma yang terkandung didalamnya.

B.  Makna Ideologi bagi Negara

Ideologi negara mempunyai ciri-ciri:

a.  Mempunyai derajat yang tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.

b.  Mewujudkan satu asas kerohanian pandangan dunia, pandangan hidup yang harus dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi penerus bangsa, diperjuangkan dan dipertahankan.

C.   Pancasila sebagai Ideologi Terbuka

Sebagai ideologi, Pancasila menjadi pedoman dan acuan kita dalam menjalankan aktivitas dalam segala bidang, sehingga sifatnya harus terbuka, luwes dan fleksibel dan tidak tertutup, kaku yang membuatnya ketinggalan jaman. Hal ini dibuktikan dari adanya sifat-sifat yang melekat pada Pancasila maupun kekuatan yang terkandung didalamnya, yaitu pemenuhan persyaratan kualitas tiga dimensi, yaitu dimensi realita, dimensi idelisme, dan dimensi fleksibilitas.

Dimensi Realita, yaitu bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung didalam ideologi tesebut nyata hidup didalam serta bersumber dari budaya dan pengalaman sejarah masyarakat dan atau bangsanya (menjadi volkgeits / jiwa bangsa).

Dimensi Idealisme, yaitu bahwa nilai-nilai dasar ideologi tersebut, mengandung idealisme yang memberi harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui pengalaman dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Dimensi Fleksibilitas, yaitu ideologi tersebut memiliki keluwesan yang memungkinkan dan merangsang pengembangan pemikiran baru yang relevan dengan ideologi bersangkutan tanpa menghilangkan atau mengingkari jati diri yang terkandung dalam nilai-nilai dasar.

Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman tanpa merubah nilai dasarnya.

Moerdiono (BP7 Pusat,1992:399) menyebutkan beberapa faktor yang mendorong pemikiran Pancasila sebagai ideologi terbuka:

a.  Dalam proses pembangunan berencana, dinamika masyarakat kita berkembang amat cepat, Dengan demikian tidak semua persoalan kehidupan dapat ditemukan jawabannya secara ideologis dalam pemikiran ideologi-ideologi sebelumnya.

b.  Kenyataan bangkrutnya ideologi tertutup seperti marxismeleninisme / komunisme. Dewasa ini kubu komunisme dihadapkan pada pilihan yang amat berat menjadi suatu ideologi terbuka atau tetap mempertahankan ideologi lainnya.

c.  Pengalaman sejarah politik kita sendiri dengan pengaruh komunisme sangat penting. Karena pengaruh ideologi komunisme yang pada dasarnya bersifat tertutup, Pancasila pernah merosot menjadi semacam dogma yang kaku. Pancasila tidak lagi tampil sebagai acuan bersama, tetapi sebagai senjata konseptual untuk menyerang lawan-lawan politik. Kebijaksaan pemerintahan disaat itu menjadi absolut. Konsekuensinya, perbedaan-perbedaan menjadi alasan untuk secara langsung dicap sebagai Pancasila.

d.  Tekad kita untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai catatan, istilah Pancasila sebagai satu-satunya asas telah dicabut berdasarkan ketetapan MPR tahun 1999, namun pencabutan ini kita artikan sebagai pengendalian fungsi utama Pancasila sebagai dasar negara. Dalam kedudukannya sebagai dasar negara, Pancasila harus dijadikan jiwa (volkgeits) bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, diterima dalam pengembangan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Di samping itu, ada faktor lain, yaitu adanya tekad bangsa Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai alternatif ideologi dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s